300_0150 Bebegig Sukamantri ©2013 Deni Sugandi_2

BEBEGIG SUKAMANTRI Seni tradisi masyarakat agraris, yang dipagelarkan pada...

300_0150 Bebegig Sukamantri ©2013 Deni Sugandi_2

BEBEGIG SUKAMANTRI
Seni tradisi masyarakat agraris, yang dipagelarkan pada acara ulang tahun kecamatan Sukamantri, di sebelah utara Kabupaten Ciamis, berbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Seni tradisi ini hadir sejak dahulu untuk untuk memperingati hari lahir ratu Belanda dan hari jadi kota-kota di Jawa Barat, kemungkinan hadir sejak masa kolonial. Dimainkan oleh laki-laki remaja hingga dewasa, dengan bentuk topeng warna-warni beragam, berupa buta dari bhuana peteng (mitologi Hindu?). Bebegig bukan merujuk kepada penampakan berbentuk manusia, untuk mengusir hama di sawah dan ladang, tetapi mengandung makna yang berbeda. Bentuk Bebegig tersusun dari ijuk kawung (aren) untuk bagian rambutnya, dilengkapi dengan kembang bubuay dan daun waregu sebagai penghiasnya, kolotok sapi, dan topeng terbuat dari kayu albasiah yang diwarnai beragam, menggunakan cat otomotif. Dana yang dibutuhkan untuk merakit berkisar antara tiga ratus ribu rupiah hingga jutaan, dengan bobot yang beragam, antara empat hingga lima puluh kilogram. Para pemain menggunakan baju yang menutupi lengan dan kaki, biasanya menggunakan sarung tangan, agar ijuk tidak melukai kulit. Pagelaran ini berlangsung dari pagi hingga siang hari, helaran, menyusuri jalan utama Kecamatan Sukamantri, dan diiringi bunyi-bunyian alat musik tradisi.

SEJARAH BEBEGIG
Seni ini berkaitan dengan wilayah di sebelah utara desa Sukamantri, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, bekas kerajaan disebut Tawang Gantungan, berlokasi yang termasuk wilayah hutan alam kayu lain (HAKL), luas 3.5 hektar di ketinggian 950 meter. Bukit itu sedikit berbeda dengan bukit yang ada disekitarnya, dibagian lembahnya terdapat 3(tiga) parigi (parit) besar yang melingkarinya. Hal itu tidak ditemukan diwilayah lain, dibawahnya ada lereng terjal yang disebut oleh masyarakat dengan nama Panggeleseran, dibawah Penggelesaran sungainya mengalkirkan air jernih dari mata air yang ada disekitar lokasi itu.
Orang yang berkuasa diwilayah Tawang Gantungan pada waktu itu adalah Prabu Sampulur, yang dikenal sakti dan juga cerdik. Untuk menjaga didaerah tersebut dari orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai wajah yang menyeramkan. Rambutnya terbuat dari ijuk kawung (Aren) yang terurai panjang kebawah, dilengkapi atribut mahkota dari kembang bubuay dan daun Waregu yang tersusun rapi diatas kepala topeng, dihiasi kembang hahapaan dan daun pipicisan. Atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur di daerah tawang gantungan, selintas biasa saja atribut yang dipasang di topeng tersebut, padahal beberapa atribut ternyata memilliki atau mengandung filosofi kehidupan yang sangat dalam.
Prabu Sampulur selalu menyerahkan daun Waregu Pancawarna dan kembang bubuay. Daun Waregu Pancawarna bukan berarti setiap helai daunnya warna-warni, melainkan hanya simbol kebaikan atau kebahagiaan. Sedangkan bunga yang keluar dari pohon sejenis rotan yang disebut bubuay itu ternyata mengandung filosofi kehidupan yang sangat berarti, dilihat dari bentuk bunga yang tersusun rapi berurutan, sebagai simbol runtut raut, sauyunan (kebersamaan), silih asah, silih asih, silih asuh, stiap helai bunganya menempel kuat di manggarnya (tangkainya). Kuatnya kebersamaan secara turun temurun tidak akan lepas dari pecah.
Selanjutnya topeng-topeng kulit kayu yang dibuat oleh Prabu Sampulur dipasang dipohon-pohon besar yang ada disekitar Tawang Gantungan konon, karena kesaktiannya bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan dan membuat takut orang itu.
Prabu Sampulur didatangi 2 orang pendatang ke tempat tersebut (Tawang Gantungan), orang itu bernama Sanca Manik dan Sanca Ronggeng, prabu sampulur sendiri mempunyai 17 orang yang bisa dipercaya dan bisa membantu termasuk Sanca Manik dan Sanca Ronggeng.
Kehidupan ditempat tersebut hanya bertani alakadarnya, bisa saja, dan berburu hewan apapun yang kiranya bisa dimakan. Sanca Ronggeng selalu menari-nari kegirangan bila mereka mendapatkan hewan buruan dan diikuti oleh yang lainnya sebagai ungkapan rasa gembira, senang. Karena keseringan melihat gerakan Sanca Ronggeng menari itu Prabu Sampulur teringat topeng yang dipasang dipohon dan Sanca Ronggeng adalah orang pertama yang memeakai topeng dan atributnya. Semenjak itu setiap mendapatkan hasil buruan mereka selalu menari memadukan jurus-jurus beladiri & tarian sambil memakai topeng. Diantara mereka, Sanca Ronggenglah yang paling lihai menari dan mengajarkan 7 gerakan tari yang juga dipadukan dengan jurus beladiri, kepada orang-orang disekitarnya.